CHRONIC = ART

Search This Blog

Friday, 28 June 2013

Sejarah Lapangan Monas

Suasana yang tenang dan indah saat matahari terbenam di ufuk Monas. (Herry Tjhin/Fotokita.net)


Sabtu (22/6) provinsi DKI Jakarta merayakan hari jadinya ke 486. Dengan menyingkirkan kontroversi pemilihan tanggal ulang tahun itu, perayaan ini diharapkan akan kembali meriah.

Ulang tahun ke-486 pada 2013 ini akan dipusatkan di Lapangan Monumen Nasional (Monas). Yang tidak banyak diketahui warga Jakarta, lapangan ini adalah alun-alun terbuka terbesar di dunia dalam wilayah sekitar kota. Demikian disebutkan Adolf Heuken SJ dalam bukunya Historical Sites of Jakarta.

Gubernur Jenderal Daendels menamainya "Champ de Mars" dan sempat digunakan sebagai wilayah latih militer pada 1809. Di sini pula, Daendels memerintahkan eksekusi mati pada Kolonel F.Filz yang dianggapnya menyerah terlalu mudah pada Inggris saat memperebutkan benteng di Ambon pada 1810.

Berselang delapan tahun, tepatnya pada 1818, Pemerintah Belanda mengganti nama lapangan ini menjadi Koningsplein atau Alun-alun Raja (Kings'Square). Dikutip dari Batavia in Nineteenth Century Photographs, pada tahun yang sama pergantian nama, rumah-rumah mulai dibangun di sekitar lapangan ini.

Namun, baru pada pertengahan abad 19, rumah-rumah besar mulai mendominasi empat sisi Koningsplein. Menjadikannya lokasi paling elit di sepanjang Batavia. Fotografer Walter Woodbury, yang menghabiskan lima bulan di sisi selatan Koningsplein pada Mei - Oktober 1857, menceritakan dengan gamblang kekagumanya lewat surat yang dikirim pada sang Ibu.

"Bagian kota yang satu ini adalah surga sempurna dengan pohon bayan, kelapa, dan pohon cantik lainnya."

Fasilitas lain di Koningsplein termasuk pacuan kuda pada 1840-an dan 1850-an, hotel, taman hiburan. Tidak salah jika kemudian Koningsplein menjadi tujuan wisata para pelancong kolonial.

Waktu melaju, sejarah membentuk kerangka, hingga akhirnya tandaslah masa kuasa bangsa penjajah. Koningsplein menjadi seutuhnya milik bangsa Indonesia.

Pascakemerdekaan, Presiden Soekarno memoles ulang lapangan yang sempat menjadi kebanggaan Belanda itu. Puncaknya, pembangunan Tugu Monas, yang menurut beberapa referensi, terbagi menjadi tiga tahap. Terciptalah ikon provinsi Ibu Kota dari Indonesia yang menggema ke seluruh dunia.

Besok, Tugu Monas akan kembali jadi pusat perhatian. Bukan hanya bagi warga Jakarta, tapi juga warga dunia yang bertepuk memberi selamat pada umur panjangnya. Selamat melangkah di usia baru, Jakarta

0 comments:

Post a Comment

Page Fans

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management