CHRONIC = ART

Search This Blog

Monday, 6 February 2017

Zaman kegelapan Eropa Dark Age

Sejarah Eropa memiliki bentangan waktu yang panjang dimulai dari zaman paleolithikum ribuan tahun yang lalu. Secara garis besar, sejarah Eropa dibagi menjadi 3 periode, yaitu: Eropa klasik, Eropa pertengahan, dan Eropa modern. Di sini kita akan membahas tentang Eropa abad pertengahan pada masa abad kegelapan.
Abad pertengahan adalah periode sejarah yang terjadi di daratan Eropa yang ditandai sejak bersatunya kembali daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 hingga munculnya monarkhi-monakhi nasional. Dimulainya penjelajahan samudera, kebangkitan humanisme, serta reformasi Protestan dengan dimulainya renaissance pada tahun 1517.
Abad pertengahan sering diwarnai dengan kesan-kesan yang tidak baik. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya kalangan yang memberikan stereotipe kepada abad pertengahan sebagai periode buram sejarah Eropa mengingat dominasi kekuatan agama yang begitu besar sehingga menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, prinsip-prinsip moralitas yang agung membuat kekuasaan agama menjadi begitu luas dan besar di segala bidang.
Abad pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, sains yang telah berkembang di zaman klasik dipinggirkan dan dianggap sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari pemikiran ketuhanan.
Eropa dilanda Zaman Kegelapan sebelum tiba Zaman Pembaharuan. Yang dimaksud Zaman Kelam atau Zaman Kegelapan ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan kemunduran ilmu pengetahuan Menurut Ensikopedia Amerikana, zaman ini berlangsung selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Romawi dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi.
Gelap juga dianggap sebagai tidak adanya prospek yang jelas bagi masyarakat Eropa. Keadaan ini merupakan wujud kekuasaan agama, yaitu gereja Kristiani yang sangat berpengaruh. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik. Mereka berpendapat hanya gereja saja yang pantas untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains merasa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka pun ditolak dan timbul ancaman dari gereja, yaitu siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera, malah ada yang dibunuh. segala keputusan pemerintah dan  hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman kekasiaran Roma. Keputusan tersebut diambil oleh majelis dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat, karena pada zaman itu yang berhak mengeluarkan pendapat-keputusan adalah para ahli agama. (lihat perilaku kaum Salafy yang kini justru meniru mereka) Bahkan segala sesuatu yang bertentangan dengan penafsiran dewan gereja merupakan pelanggaran hukum berat.
Akibatnya setiap inovasi yang berasal dari kaum ilmuan selalu digagalkan oleh dewan gereja. Ya itu tadi pokoknya bila dewan gereja tidak paham dan tidak memiliki dasar argumen yang kuat di dalam injil maka inovasi tersebut merupakan perkara pelanggaran agama berat. Salah satu yang menjadi korbannya adalah Nicholas Coppernicus yang berakhir tragis akibat teorinya yang mengataAkibat terlalu banyak intervensi dewan Gereja pada sendi-sendi kehidupan, termasuk juga pelarangan terhadap temuan maupun inovasi baru yang tidak ada pada injil maka akhirnya terjadi stagnasi secara multi dimensi yang lambat laun berimbas pada timbulnya krisis multi dimensi.

Zaman Kegelapan (Dark Ages)
Abad  kegelapan merupakan sebuah zaman antara runtuhnya Kekaisaran Romawi dan Renaisannce atau munculnya kembali peradaban lama. Dari masa sebelum masehi yang kental dengan Filsafat Relativisme (Kebenaran) Sofisme Yunani Kuno, berlanjut ke apa yang kemudian dinamakan Jaman Abad Pertengahan yang berlangsung lama, kurang lebih selama lima belas Abad, dari sekitar Abad I sampai Abad XV M.
Masa ini disebut juga sebagai Era atau masa Medieval atau juga Abad Kegelapan atau Dark Ages) dan dimulai setelah masa Nabi Isa bin Maryam ‘alaihis salam menapakkan kaki di muka Bumi dan berdakwah. Beliau dikenal juga sebagai Isa bin (anak) Maryam, yang dengan sejumlah perkecualian dan catatan perbedaan mendasar adalah hampir dapat dikenal sama juga sebagai Yesus Kristus atau Yesus dari Nazareth dalam khazanah Kristen.
Kegemparan akan datangnya ’Yesus dari Nazareth’ yang tak memiliki ayah dan nasabnya ditahbiskan kepada Maryam (Maria), ibunya, dan dalam hidup singkatnya menampilkan berbagai mukjizat luar-biasa itu, mengguncang peradaban manusia di sekitarnya saat itu, dan banyak orang yang kemudian berspekulasi akan kenyataan ini.
Di masa ini, lahir pula agama Kristen, dan ide-idenya mendominasi relung kehidupan masyarakat Eropa dan pengikutnya, termasuk para Pemikirnya. Dan wajah peradaban Barat pada Abad Pertengahan ini, karenanya, didominasi oleh Filsafat Kristen.
Filsafat Kristen atau Abad Pertengahan ini, antara lain bertokohkan Filsuf Plotinus, (Santo atau Saint) Augustinus atau Augustine, (Saint) Anselmus, Robert Grosseteste, Roger Bacon, Albert Agung, Thomas Aquinas, dsb. Yang kesemuanya sepakat mengedepankan iman dogmatis (tak boleh dibantahi) Kristiani, dan telaahnya pun bersifat religius-dogmatis.Akibat pengaruh hebat dan dominan Agama Kristen yang didominasi oknum kaum Gerejawan dan Monarki Baratnya dengan segala ragam tafsir dogmatisnya.
Dan tak pelak pemanfaatan Platonisme ala Yunani Kuno (dicetuskan Plato) yang mengajarkan bahwa kebenaran itu sudah ada dengan sendirinya dan berpusat kepada Tuhan namun berjenis dan berbungkus baru, yang disebut sebagai Neo-Platonisme, menjadi gencar dan ditahbiskan sepenuhnya tanpa telaah kristis kepada iman Kristiani. Ini, mau tak mau mendukung pula klaim dogmatis akan kebenaran Kristen.
Para ahli Filsuf dan Agamawan mereka di saat itu karenanya teguh bermottokan ”Credo et intelligam” atau ”Keyakinan (keimanan agama) berkedudukan di atas pemikiran (logika), keyakinan mengungguli pemikiran” atau lebih mudahnya, ”Yakini dulu sesuatu, baru carikan alasan untuk menjelaskannya”.
Maka, dengan sendirinya, Akal (di Barat) benar-benar kalah pada masa ini (terutama terlihat pada isi Filsafat dari Plotinus, Augustinus, Anselmus). Bahkan potensi pemanfaatan akal diganti mutlak oleh Augustinus dengan Iman dogmatis, sebelum penghargaan terhadap potensi Akal sempat muncul kembali kemudian pada masa Thomas Aquinas di akhir masa Abad Pertengahan itu.
Dan karenanya pula, Aquinas kemudian ditentangi hebat dan dibenci sebagian besar masyarakat gereja yang terlanjur menjadi pendukung jalur hati iman Kristiani  yang dalam hal ini sebagaimana telah disebutkan di atas adalah iman mutlak dogmatis kristiani yang tidak mengindahkan telaah kritis akal.
Ini juga tak pelak menyebabkan masyarakat Barat di masa itu secara luas menjadi percaya dan beriman dogmatis akan ‘rasa hati’ (atau yang adalah agama, Kristen, lebih tepatnya Kristen Katolik, bagi mereka), karena menurut mereka agama adalah rasa hati dan Filsafat adalah pemikiran. Filsafat dan Agama itu sendiri, satu hal yang di masa sesudahnya terutama masa Thomas Aquinas, dicoba untuk disatu-padukan namun menemui sejumlah kendala sampai masa Modern merebak.
Keyakinan Kristiani yang mendominasi di masa Abad Pertengahan ini, menjadikannya tidak boleh atau tidak mudah untuk dapat dikritiki, sekaligus membuat kedudukan mereka yang berada dalam struktur otoritas agamanya menjadi tinggi dan tak dapat disalahkan. Dan karenanya ini juga membuat mereka makmur secara ekonomi juga sebagai pemegang mandat negara dengan mandat Otokrasi dan Teokrasi Kristiani.
Dan kenyataan ini bagi sebagian orang lain, misalnya rakyatnya yang mereka pimpin, artinya juga adalah kesemena-menaan yang diorganisasikan. Kekuasaan absolut negara dan pusat-pusat kesejahteraan masyarakat saat itu dipegang mutlak oleh Gereja dan Kerajaan, dengan pajak sistem Feodalisme berdasarkan tafsir mereka terhadap iman Kristiani dan bahwa Gereja adalah wakil Tuhan di Bumi dan bahwa sistem pemerintahan yang terbenar adalah Kerajaan Kristiani penyokongnya. Golongan Ksatria, dan Raja adalah pelindung rakyat dan rakyat harus membayar pajak kepada mereka yang penafsirannya seringkali dianggap semena-mena oleh rakyat.
Tak pelak juga, maka, perkembangan ilmu-pengetahuan yang biasanya berdasarkan kepada gelitikan pemikiran, rasa penasaran, kebertanya-tanyaan  pemikiran pun menjadi lambat pula. Pendeknya, potensi telaah akal pada masa ini dihambati.
Di saat Zaman Kegelapan, segala keputusan pemerintah dan hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman Kekaisaran Romawi. Keputusan tersebut diambil oleh majelis dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat, karena pada zaman itu yang berhak mengeluarkan pendapat keputusan adalah para ahli agama. Gagasan tentang Dark Age berasal dari Petrarch (seorang humanis,cendekiawan dan penyair Italia) pada tahun 1330-an. Dia menulis tentang orang-orang yang hidup sebelum dia, ia berkata: "Di tengah  kesalahan bersinar seorang genius, mata mereka melihat dengan  tajam meskipun mereka dikelilingi oleh kegelapan yang sangat pekat ".  Para penulis yang beragama Kristen, termasuk Petrarch sendiri telah lama menggunakan kiasan " terang melawan gelap "untuk menggambarkan" kebaikan melawan kejahatan ". Petrarch adalah orang pertama yang menggunakan kiasan dan memberikan makna sekuler dengan membalikkan penerapannya. Zaman klasik telah lama dianggap sebagai zaman "gelap" karena kurangnya kekristenan yang dilihat oleh Petrarch sebagai zaman "cahaya" karena prestasi dan pencapaian kultural, sedangkan pada zaman Petrarch, diduga kurang prestasi budaya sehingga Petrarch memandangnya sebagai zaman kegelapan (dark age).
Abad pertengahan merupakan zaman dimana Eropa sedang mengalami masa suram. Berbagai kreativitas sangat diatur oleh gereja. Dominasi gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan. Agama Kristen sangat mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Seolah raja tidak mempunyai kekuasaan, justru malah gereja lah yang mengatur pemerintahan. Berbagai hal diberlakukan demi kepentingan gereja, tetapi hal-hal yang merugikan gereka akan mendapat balasan yang sangat kejam. Contohnya, pembunuhan Copernicus mengenai teori tata surya yang menyebutkan bahwa matahari pusat dari tata surya, tetapi hal ini bertolak belakang dari gereja sehingga Copernicus dibunuhnya.
Pemikiran manusia pada Abad Pertengahan ini mendapat doktrinasi dari gereja. Hidup seseorang selalu dikaitkan dengan tujuan akhir (ekstologi). Kehidupan manusia pada hakekatnya sudah ditentukan oleh Tuhan. Maka tujuan hidup manusia adalah mencari keselamatan. Pemikiran tentang ilmu pengetahuan banyak diarahkan kepada theology. Pemikiran filsafat berkembang sehingga lahir filsafat scholastik yaitu suatu pemikiran filsafat yang dilandasi pada agama dan untuk alat pembenaran agama. Oleh karena itu disebut Dark Age atau Zaman Kegelapan.
Abad pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, sains yang telah berkembang di zaman klasik dipinggirkan dan dianggap sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari pemikiran ketuhanan.
Eropa dilanda Zaman Kegelapan sebelum tiba Zaman Pembaharuan. Yang dimaksud Zaman Kelam atau Zaman Kegelapan ialah zaman masyarakat Eropa menghadapi kemunduran intelektual dan kemunduran ilmu pengetahuan Menurut Ensikopedia Amerikana, zaman ini berlangsung selama 600 tahun, dan bermula antara zaman kejatuhan Kerajaan Romawi dan berakhir dengan kebangkitan intelektual pada abad ke-15 Masehi.
Gelap juga dianggap sebagai tidak adanya prospek yang jelas bagi masyarakat Eropa. Keadaan ini merupakan wujud kekuasaan agama, yaitu gereja Kristiani yang sangat berpengaruh. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik. Mereka berpendapat hanya gereja saja yang pantas untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains merasa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka pun ditolak dan timbul ancaman dari gereja, yaitu siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera, malah ada yang dibunuh. segala keputusan pemerintah dan  hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman kekasiaran Roma. Keputusan tersebut diambil oleh majelis dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat, karena pada zaman itu yang berhak mengeluarkan pendapat-keputusan adalah para ahli agama. (lihat perilaku kaum Salafy yang kini justru meniru mereka) Bahkan segala sesuatu yang bertentangan dengan penafsiran dewan gereja merupakan pelanggaran hukum berat.
Akibatnya setiap inovasi yang berasal dari kaum ilmuan selalu digagalkan oleh dewan gereja. Ya itu tadi pokoknya bila dewan gereja tidak paham dan tidak memiliki dasar argumen yang kuat di dalam injil maka inovasi tersebut merupakan perkara pelanggaran agama berat. Salah satu yang menjadi korbannya adalah Nicholas Coppernicus yang berakhir tragis akibat teorinya yang mengatakan akibat terlalu banyak intervensi dewan Gereja pada sendi-sendi kehidupan, termasuk juga pelarangan terhadap temuan maupun inovasi baru yang tidak ada pada injil maka akhirnya terjadi stagnasi secara multi dimensi yang lambat laun berimbas pada timbulnya krisis multi dimensi

Diplomasi Abad Pertengahan II

DIPLOMASI ABAD PERTENGAHAN II
Perkembangan seni diplomasi menjadi lebih rumit pada Abad pertengahan. Hal ini disasari oleh berbagai fenomena yang terjadi dari Dark Ages hingga Rennaisance yang mempengaruhi dinamika kehidupan di Eropa. Abad Pertengahan ditandai dengan bersatunya kembali daerah kekuasaan Romawi Barat pada abad ke-5 hingga munculnya monarki-monarki nasional, kebangkitan humanisme, dimulainya penjelajahan samudera, hingga reformasi Protestan sebagai tanda lahirnya Rennaisance. Pada era Dark Ages muncul pula paham-paham baru akibat dari pengaruh gereja yang kian besar dalam arti ‘menindas’ seperti Kristendom dan Absolutisme. Hal ini pula yang menghambat perkembangan di Eropa baik dari segi ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi dan bahkan prinsip-prinsip moralitas (Knutsen, 1997). Namun setelah zaman ini berakhir muncul zaman baru yang disebut Abad Renaissance atau Pencerahan yang ditandai oleh kehidupan cemerlang di bidang seni, pemikiran maupun kesusastraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan intelektual abad pertengahan. Masa Renaissance ini bermula dari abad ke-14 hingga sekitar abad ke-17. Pada tulisan ini penulis akan menjelaskan tentang pengaruh Dark Ages hingga Rennaisance terhadap diplomasi.
Dark ages berada di abad pertengahan yang merupakan zaman dimana Eropa sedang mengalami masa suram, dengan stagnansi ilmu pengetahuan dan teknologi menstimulus hadirnya paham-paham baru dan tokoh-tokoh yang berpengaruh dimasanya. Dalam halnya, Eropa tengah dikuasi oleh konsep kristendom yang terjadi di abad ini sebagai suatu proses kristenisasi yang ada di Eropa (Marty, 2008). Kristendom merupakan paham dimana dalam satu wilayah meskipun terdiri dari berbagai suku dan etnis, haruslah bersandar dalam satu agama yakni Kristen. Kristendom lahir di Eropa dan berpusat di Inggris karena pada Abad Pertengahan, kerajaan Inggris memiliki relasi yang terlebas luas di benua Eropa dan sekitarnya. Diplomasi yang dilakukan dalam Abad Pertengahan dilakukan oleh kerajaan dan gereja. Dari sini gereja berada di bawah otoritas kerajaan dan digunakan sebagai instrumen kekuasaan, sebagai gantinya gereja mendapatkan perlindungan dari kerajaan. Selain itu, gereja juga merupakan penasihat raja dan berperan besar dalam pengambilan keputusan termasuk sebagai pemeran utama dalam diplomasi pada waktu itu. Dominasi diplomasi dipegang oleh Paus atas nama kepentingan agama. Diplomasi yang dilakukan Paus lebih cenderung sebagai mediator konflik. Jenis diplomasi yang berkembang awalnya adalah “old diplomacy” dan “secret diplomacy” dengan karakteristik yang bersifat  tertutup, rahasia, elitis dan diwarnai dengan tipu daya (Roy, 1995). Dengan kekuatan yang dimilikinya, gereja cenderung memonopoli hal ini untuk memperbesar pengaruhnya dengan melakukan kristenisasi dimana agama lain dihilangkan dari Eropa. Tidak hanya itu, berbagai aspek kehidupan juga turut diatur oleh gereja hingga akhirnya berbagai kebijakan pemerintahan juga turut beada di bawah kekuasaan gereja. Berbagai hal ditempuh demi mempertahankan kepentingan gereja, apabila terdapat paham yang bertentangan dengan gereja akan dikenakan sanksi yang kejam (Knutsen, 1997). Dari sini terlihat bahwa diplomasi berkembang dengan cenderung bersifat memaksa, karena dalam halnya hasil diplomasi berakhir hanya pada dua pilihan, kesepakatan sesuai permintaan gereja atau perang (Salamah, 2014).
Namun seiring dengan akhir perkembangannya kekuatan gereja semakin menurun karena banyaknya konflik yang terjadi, hal tersebut menyebabkan munculnya pola baru di Eropa. Melemahnya kekuasaan gereja diiringi dengan semakin menguatnya kekuasaan raja. Dengan semakin melemahnya otoritas gereja, maka raja yang sebelumnya sejajar dengan gereja di dalam kekuasaannya, kini berubah menjadi pemegang kekuasaan kerajaan secara menyeluruh. Kristendom mulai jatuh pada Kekaisaran Romawi saat konsep Charlemagne mulai menyebar. Charlemagne terkenal akibat prestasi yang diraihnya dengan menaklukan banyak wilayah meliputi sebagian besar Eropa barat dan tengah yang menjadikan Ia sebagai tokoh berpengaruh pad Abad Pertengahan. Hal ini menciptakan sebuah lembaga atau sistem yang tetap selama lebih dari seribu tahun. Charlemagne adalah cucu dari Charles Martel dan anak Pippin III. Ketika Pippin meninggal, kerajaan dibagi antara Charlemagne dan saudaranya Carloman. Pada 800, Charlemagne datang untuk membantu Paus Leo III, yang telah diserang di jalan-jalan Roma. Dia pergi ke Roma untuk memulihkan ketertiban dan setelah Leo dibersihkan dirinya dari tuduhan, Charlemagne tiba-tiba dinobatkan  sebagai kaisar (Wilde, 2014). Raja Charlemagne membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang mumpuni dengan kepemilkian aturan tunggal pemerintah Francia, ia memperluas wilayahnya melalui penaklukan di Lombardia di Italia utara, yang diperoleh Bavaria hingga Spanyol dan Hongaria (Wilde, 2014). Dari segi administrasi, Charlemagne mendelegasikan otoritasnya kepada Bangsawan Frank serta memberikan kesempatan terhadap kelompok etnis dibawah kekuasaannya untuk memberlakukan hukum setempat. Namun untuk menjamin keadilan, Charlemagne memiliki hukum-hukum yang ditetapkan secara tertulis dan ketat. Dia juga mengeluarkan capitularies yang diterapkan untuk semua warga negara. Charlemagne terus mengawasi peristiwa di kerajaannya melalui penggunaan missi Dominici yakni perwakilan yang bertindak dengan kewenangannya (Wilde, 2014).
Hal ini lah yang kemudian berkembang menjadi paham Absolutisme, yang merupakan teori politik dan bentuk pemerintahan dimana kekuatan sepenuhnya dipegang oleh kedaulatan individu seperti raja, tanpa adanya check and balance dari kekuasaan lain (Wilde, 2014). Akibatnya, individu yang berkuasa memiliki kekuatan ‘mutlak’ tanpa hukum atau hal lainnya yang menentang kekuasaan tersebut. Ketika berbicara tentang sejarah Eropa, teori dan praktek absolutisme umumnya berkaitan dengan 'raja absolut' dari awal zaman modern (16 sampai abad ke-18). Awal absolutisme modern diyakini telah ada di seluruh Eropa, tetapi sebagian besar di barat di negara-negara seperti Spanyol, Prusia dan Austria. Absolutisme dianggap telah mencapai puncaknya di bawah kekuasaan Raja Perancis Louis XIV from 1643 – 1715 yang dikenal dengan semboyannya “L'etat c'est moi”. Selain itu juga raja-raja yang terkenal dengan absolutismenya antara lain yakni Katarina yang Agung dari Rusia, Leopold I dari Austria, John V dari Portugal, Frederick III dari Denmark, Charles XI dan Charles XII dari Swedia, dan Frederick Agung dari Prusia. Melihat dari kesewenang-wenangan raja atas kekuasaan yang dimilikinya jelas memperlihatkan bahwasanya diplomasi absolutisme ini menempatkan raja yang memiliki kekuasaan tertinggi. Model diplomasi yang diperlihatkan melalui paham ini sangat didasari dengan kebenaran. Disamping efek negatif yang dimilikinya, Absolutisme juga membawa efek positif terhadap dunia sekarang dimana dari paham Absolutisme ini  yang pada akhirnya menyadarkan bahwa negara membutuhkan sesosok pemimpin atau raja yang bijaksana dan tidak sewenang-wenang dalam kekuasaannya. Pada paham Absolutisme, raja memiliki kekuataan tertinggi sehingga diplomasi pun juga turut berpengaruh oleh kehadiran sosok raja. Dari sini dapat ditarik bahwa Absolutisme berkontribusi dalam konsep diplomat yang dibawa hingga kini yang mana diplomat harus berbicara kebenaran mutlak terhadapnya. Diplomat dituntut harus berbicara benar dalam pengemban tugas diplomatiknya walaupun mereka harus mati (Salamah, 2014). Karena bagi paham ini kebenaran adalah absolut dan absolut tidak akan pernah bisa hancur.
Akhir zaman kegelapan berakhir setelah dimulainya zaman pencerahan atau renaissans. Timbulnya renaissans karena ditandai dengan adanya kerinduan dan ingin mengembalikan kejayaan dengan hidup penuh kebebasan, kemewahan, dan kehormatan bagi para penguasa (Salamah, 2014). Secara etimologi Renaissance berasal dari bahasa Latin yaitu kata Re berarti kembali dan naitre berarti lahir. Secara bebas kata Renaissance dapat diartikan sebagai masa peralihan antara abad pertengahan ke abad modern yang ditandai dengan lahirnya berbagai kreasi baru yang diilhami oleh kebudayaan Eropa Klasik (Yunani dan Romawi) yang lebih bersifat duniawi (Wilde, 2014). Seusai mengalami dominansi gereja, abad pertengahan diwarnai dengan hal-hal yang sekarang disebut humanisme, hal ini dikarenakan sebelumnya nilai-nilai yang menjadi panutan adalah nilai gereja bukan ukuran yang dibuat oleh manusia. Nilai-nilai tersebut antara lain humanisme, individualisme, empirisme dan rasionalisme (Tafsir, 2007). Timbulnya nilai-nilai dipicu oleh tulisan Dante Alighieri, Rene Descartes, Martin Luther dan para pemikir lainnya berhasil membuat runtuhnya dominasi Gereja di Eropa. Dengan dibawanya nilai-nilai baru pada masa tersebut, pola diplomasi juga turut berubah. Yakni yang pada Abad Pertengahan ditengarai berbau pemaksaan dan kekerasan, sedangkan dalam rennaisans lebih menekankan pada sisi negosiasi (soft power). Praktik diplomasi yang dilakukanpun telah menjadi kegiatan permanen pemerintah. Penguasa Eropa mulai mengirim wakilnya untuk tinggal di negeri asing untuk mengumpulkan informasi dan sekaligus mewakili negara dalam kegiatan yang akan dilakukannya. Dibandingkan pada abad pertengahan yang dulunya hanya mengirimkan wakilnya dalam waktu yang singkat saja. Penempatan Kedutaan Besar pertama kali oleh adipati dari Milan di Napoli, Genoa, Roma, dan Venice. Lalu semenjak itu berbagai Negara mulai mengikuti dan mendirikan kedutaan mereka di Negara-negara lain. Diplomasi seperti ini perlahan-lahan mulai mnyebar ke Eropa Utara. Negara Spanyol mulai mendirikan Kedutaannya di Negara Eropa Utara, sedangkan Prancis juga mulai mendistribusikan duta besarnya ke seluruh benua (Wilde, 2014).
Aktor Rennaisans yang terkenal adalah Nicollo Machiavelli dengan konsep kedaulatan negaranya. Machiavelli hidup saat puncak kejayaan Renaissans di Italia dimana negara tersebut masih terbagi-bagi dalam negara kecil. Machiavelli merupakan aktor pemberontak Abad Pertengahan, yang menolak kekuasaan gereja. Karena menurutnya, kekuasaan dan politik itu tidak mempunyai hubungan dengan Tuhan, moralitas, ataupun agama (Salamah, 2014). Dalam halnya, diplomasi memandang kekuasaan sebagai sebuah tujuan, sebagaimana yang ia sebutkan dalam karyanya ‘The Prince’  bahwa seorang yang telah memegang kekuasaan penting cenderung dapat berbuat hal-hal yang terpuji atau bahkan tidak terpuji. Niccolo Machiavelli menekankan dalam bukunya Il Principe (1532) bahwa penguasa harus dapat menggunakan segala cara agar dapat mempertahankan kekuasaan (Rousseau, 2011). Begitu pula dalam hal berdiplomasi, Machiavelli mengatakan bahwa seorang duta harus memiliki sifat yang baik dan bertanggung jawab untuk reputasi negaranya, walaupun cara yang digunakan dalam berdiplomasi dengan menggunakan pengkhianatan tipu muslihat dalam prakteknya. Selain itu juga dalam berdiplomasi Machiavelli melihat bahwa suatu negara harus dapat membuat dirinya disegani dan diakui dengan negara lainnya. Menurutnya, aliansi juga penting untuk dibangun dalam mempertahankan kedaulatan negara (Salamah, 2014).
 Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa diplomasi mengalami perkembangan lebih maju atau yang sekarang kita sebut diplomasi modern diawali pada masa Rennaisans. Pada era Dark Age, gereja menjadi kekuatan sentral utama kehidupan manusia, namun pada akhirnya hal ini ditentang sejak menyebarnya konsep Charlemagne di Eropa. Paham Kristendom yang awalnya mendominasi Eropa dengan kristenisasi dan kesewang-wenangan petinggi gereja, turut digantikan dengan Absolutisme yang memberikan kekuasaan tertinggi berada pada Raja. Awal absolutisme modern diyakini telah ada di seluruh Eropa yang menjadi awal mula zaman modern. Akhir zaman kegelapan pun ditandai dengan hadirnya renaisans yang membawa nilai-nilai baru yakni humanisme, individualisme, empirisme dan rasionalisme. Praktik-praktik diplomasi pun telah berkembang selayaknya zaman modern, seperti penempatan perwakilan diplomatic secara permanen dalam rangka menjalin hubungan antar negara, serta telah menggunakan keutamaan negosiasi (soft power) dalam hal menyelesaikan konflik. Lahirnya Abad Renaisans juga didukung oleh aktor-aktor berpengaruh seperit Machiaveli yang memberontak kekuasaan gereja. Dalam hal keuasaan, Nicolo Macghiavelli mengungkapkan penguasa harus melakukan segala cara dalam mempertahankan kedaulatan negaranya, sebagaimana diplomasi seharusnya dilaksanakan.

Perkembangan Sejarah Seni Rupa pada Masa Renaissance


Perkembangan Sejarah Seni Rupa pada Masa Renaissance

Memasuki abad Renaissance, muncul adanya gejala kapitalisme dan individualisme. Sehingga muncul kelompok baru dalam masyarakat yang amat menentukan bagi perkembangan kebudayaan pada saat itu, yaitu kelompok “borjuis”. Demikian pula dalam perkembangan kehidupan seni rupa pada saat ini banyak para seniman yang dibiayai untuk membuat suatu karya seni berdasarkan atas pesanan; lukisan pada saat itu sudah dianggap sebagai suatu lambing status kekayaan bagi seseorang.
Jika pada masa Gothik banyak terlihat gejala komposisi arsitektur vertical, pada masa Renaissance memiliki gejala mengarah poda sifat horizontal. Ketaatannya terhadap hokum alam amat mempengaruhi dalam kehidupan seni rupanya, hal tersebut tampak pada cara pengolahan warna, anatomi, perspektif, cahaya, komposisi dan tema.
Dalam seni patung pun tema-tema tak lagi berkisar pada tema keagamaan saja, namun manusia pun telah menjadi objek perhatian.
Sebagai pelukis, Giotto lah seniman yang pertama kali menginjakkan kaki pada masa Renaissanc. Hal tersebut didasarkan pada gejala untuk yang pertama kali dalam karya lukis lebih ditekankan pada aspek alamiah manusia, bukan pada aspek rokhaniahnya.
Pengikut Giotto ialah ; Bernado Daddi dan Taddeo Gaddi, serta mempengaruhi pula dalam penciptaan seni patung, diantara pematung yang mengikuti jejaknya ialah Andrea Pisano.
Tokoh-tokoh yang lain yaitu;
Duccio (1278-1318) : banyak mempelajari karya Giotto, namun dalam karyanya tidak terlalu konsisten. Banyak melukis di gedung penting di Siena dengan tema keagamaan.
Simone Hartini (1315-1344) :  dia murid Duccio, dan dia merupakan master yang cukup terkenal di Siena bahkan sampaiNaples pada awal Renaissance. Pernah mendapat order untuk raja Prancis dan banyak melukis di altar Piece dan panel-panel.
Kebudayaan Yunanni-Romawi adalah kebudayaan yang menempatkan manusia sebagai subjek utama.[1][4] Filsafat Yunani, misalnya menampilkan manusia sebagai makhluk yang berpikir terus-menerus memahami lingkungan alamnya dan juga menentukan prinsip-prinsip bagi tindakannya sendiri demi mencapai kebahagiaan hidup (eudaimonia).[1][5] Kesustraan Yunani, misalnya kisah tentang Odisei karya penyair Yunani Kuno, Homerus, menceritakan tentang keberanian manusia menjelajahi suatu dunia yang penuh dengan tantangan dan pengalaman baru.[1] Arsitektur ala Yunani-Romawi mencerminkan kemampuan manusia dalam menciptakan harmoni dari aturan hukum, kekuatan, dan keindahan.[1][6]
Selain itu, kemampuan bangsa Romawi dalam bidang tehnik dan kemampuan berorganisasi pantas mendapatkan acungan jempol.[1] Semua ini jelas menunjukkan bahwa kebudayaan Yunani-Romawi memberikan tempat utama bagi manusia dalam kosmos.[1] Suatu pandangan yang biasa disebut dengan ''Humanisme Klasik''.[1]
Kebudayaan Raissans ditujukan untuk menghidupkan kembali Humanisme Klasik yang sempat terhambat oleh gaya berpikir sejumlah tokoh Abad Pertengahan.[1] Hal ini memiliki kaitan dengan hal yang tadi dijelaskan.[1] Apabila dibandingkan dengan zaman Klasik yang lebih menekankan manusia sebagai bagian dari alam atau polis (negara-negara kota atau masyarakat Yunani Kuno).[1] Humanisme Renaissans jauh lebih dikenal karena penekanannya pada individualisme.[1] Individualisme yang menganggap bahwa manusia sebagai pribadi perlu diperhatikan.[1] Kita bukan hanya umat manusia, tetapi kita juga adalah individu-individu unik yang bebas untuk berbuat ssuatu dan menganut keyakinan tertentu.[1]
Kemuliaan manusia sendiri terletak dalam kebebasannya untuk menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam (Pico Della Mirandola).[1] Gagasan ini mendorong munculnya sikap pemujaan tindakan terbatas pada kecerdasan dan kemampuan individu dalam segala hal.[1] Gambaran manusia di sini adalah manusia yang dicita-citakan Humanisme Renaissans adalah manusia 


SENI RUPA RENAISSANCE DI INDONESIA
Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini.
Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukisIndonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa. Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda. Perjalanan seni lukis Indonesia sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.
Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.

Friday, 27 June 2014

Para Gladiator adalah Budak Kekaisaran Romawi Kuno

Temuan ini memperlihatkan bagaimana rasanya hidup dan berlatih sebagai gladiator.

sekolah gladiator,romawi kuno,padepokan gladiator,kekaisaran romawi,ksatria kuno,amphitheaterNG Staff
Para gladiator jelas merupakan budak berharga, tetap terpisah dan dipisahkan dari kota Carnuntum, yang didirikan di Sungai Danube oleh Kaisar Hadrian pada 124 Masehi dan kemudian menjadi benteng Romawi .
"Penemuan di Carnuntum memberi kita kesan yang jelas tentang bagaimana rasanya hidup dan berlatih sebagai gladiator di perbatasan utara yang dingin di Kekaisaran Romawi," kata pakar gladiator Kathleen Coleman dari Harvard, yang bukan bagian tim peneliti.
Meskipun lebih dari 100 sekolah gladiator dibangun di seluruh Kekaisaran Romawi, sisa-sisanya hanya dikenal di Roma, Carnuntum, dan Pompeii (yang memiliki padepokan kecil swasta gladiator). Dalam arena berdinding seluas 11.000 meter persegi di situs Austria, gladiator berlatih sepanjang tahun untuk bertempur di sebuah amphitheater umum di dekatnya.
"Mereka tidak sering terbunuh, mereka terlalu berharga untuk mati," kata arkeolog Wolfgang Neubauer dari University of Vienna. "Banyak orang lain yang kemungkinan tewas di amphitheater, orang tidak dilatih untuk melawan. Dan ada banyak pertumpahan darah. Tapi pertarungan antargladiator adalah puncak penampilan mereka. Mereka tidak saling membunuh."

Menerka Masa Depan Lewat Fiksi Ilmiah

Prediksi ini sulit dan sering salah, namun menerka-nerka lewat fiksi ilmiah bukanlah hal yang sia-sia

robotPada 2020, robot diperkirakan akan mengambil alih pekerjaan manusia (BBC Indonesia).
Bagaimanakah gambaran dunia di masa depan? Ketika robot menjadi lebih pintar dari manusia apakah hubungan keduanya bisa menjadi antagonistis?
BBC bertemu dengan salah satu penulis fiksi ilmiah terkenal asal Kanada, Robert Sawyer dan membahas wacana ini.
Fiksi ilmiah seperti yang ditulis Sawyer—di antaranya Flash Forward, The Terminal Experiment, Hominids, dan Mindscan—mungkin bisa dianggap sebagai 'prediksi' akan apa yang terjadi di masa depan.
Tentu prediksi ini sulit dan sering salah, namun menerka-nerka lewat fiksi ilmiah bukanlah hal yang sia-sia, kata Peter Day.
Sawyer dalam wawancaranya dengan Day mengatakan bahwa buku-bukunya mencerminkan masa depan yang optimis. Hari ini lebih baik dibanding 50 tahun yang lalu dan dalam waktu 50 tahun, keadaan akan menjadi lebih baik lagi.
Setidaknya inilah yang terjadi di Tiongkok, kata Sawyer, berdasarkan apa yang berubah dalam 30 tahun terakhir. Dia optimistis—bukan kepada teknologi—tetapi manusianya.
Sawyer memberikan contoh bagaimana pria kini terlibat dengan membesarkan anak-anak di negara barat dengan cara yang belum terbayangkan 60 tahun yang lalu.
"Fiksi ilmiah adalah ilmu yang sama seperti ilmu sosial dan teknologi," kata Sawyer.
Robot terlampau cerdas
Sawyer optimistis dengan hal yang membuat banyak orang khawatir: yaitu ketersediaan energi. Dia mengatakan dengan pendekatan fiksi ilmiah-nya, energi terbarukan akan membawa biaya energi ke titik mendekati nol.
Selain energi, sejumlah ilmuwan yang mempelajari masa depan—terutama Ray Kurzweil dari Amerika—mengangkat wacana tentang kecerdasan buatan yang mungkin melampaui manusia pada tahun 2050-an.
Namun menurutnya tidak ada alasan untuk takut kepada kecerdasan buatan ini: "Ketika kita memiliki mesin yang cerdas—dan kemudian dua kali lebih cerdas dibandingkan manusia tidak ada alasan mengapa hubungan tersebut tidak bisa sinergis," ucap Sawyer.
Dia mengatakan kelemahan terbesar orang-orang yang takut komputer pintar atau robot "adalah gagasan bahwa kecerdasan yang super cepat dan super kuat nantinya akan dipengaruhi oleh keserakahan manusia".

Page Fans

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management