CHRONIC = ART

Search This Blog

Thursday, 20 March 2014

Anjing-anjing Byrd

Anjing-anjing Byrd

Anjing-anjing Byrd

Anjing-anjing Byrd
Anak-anak anjing yang menarik kereta luncur mainan jadi hiburan George Black, pengawas pasokan, saat menjalankan ekspedisi pertama Richard Byrd di Antartika. Mereka merupakan keturunan dari 94 ekor anjing yang awalnya dibawa sebagai alat transportasi selama perjalanan, dan segera menjadi penghuni termuda kamp yang disebut Dog Town.

"Oh Tuhan, semua parfum di Prancis tidak akan dapat menyingkirkan bau Dog Town," tulis Byrd dalam sebuah buku mengenai perjalanannya, Exploring with Byrd.

Pengorbanan Sang Unta

Pengorbanan Sang Unta

Pengorbanan Sang Unta
Kenapa ada seekor unta di dalam sebuah balai pertemuan di Damaskus? Fotografer Andrea Bruce mengetahui jawabannya. Suatu malam di Kota Tua itu, ia mengambil foto satu kelompok berisi lima orang pejuang pro-pemerintah. Orang-orang ini telah menghabiskan sepanjang malam di pos pemeriksaan. Lantaran ingin meredakan ketegangan, seorang pejuang menatap lekat-lekat mata seekor unta yang telah digiring dari kandang di dekat situ, ungkap Bruce, “sebagai lelucon.”
Tetapi bagi si unta, semua itu tidak lucu. Si pejuang dan rekan-rekannya berencana untuk menyembelih unta itu. Kawan mereka ditahan oleh pihak berwenang Suriah, dengan tuduhan menyimpan senjata bagi pejuang pemberontak. Orang itu akan dibebaskan tak lama lagi; para pejuang berharap bisa menyembelih unta muda itu untuk pesta syukuran.
Bruce menghabiskan berhari-hari membujuk orang-orang ini dan yang lainnya agar memperbolehkan dirinya mendokumentasikan kehidupan mereka. “Kecurigaan sudah mengurat akar,” ungkapnya. Saraf tegang, teman-teman dipisahkan. Garis pertempuran berupa mobil-mobil yang terguling dan perabotan yang ditumpuk memisahkan kota dari daerah pinggirannya sendiri. “Ini semacam kota yang sedang berada dalam penantian.” —Eve Conant

Tinggi Menjulang

Tinggi Menjulang

Pada 1902, di lokasi berbentuk segitiga yang ganjil di persimpangan Fifth Avenue, Broadway, dan 23rd Street, didirikanlah Flatiron Building—salah satu gedung pencakar langit New York City yang pertama. Awalnya, gedung tersebut berlantai 20. Lantai ke-21 ditambahkan pada 1905.
Pemandangan Fifth Avenue dari bangunan itu dimuat dalam National Geographic edisi Juli 1918 untuk kisah “New York—The Metropolis of Mankind.” Di artikel itu, penulis William Joseph Showalter mengungkapkan, “Dari sudut dan alat apa pun untuk melihatnya, New York menantang minat serta mengaduk-aduk imajinasi seseorang.” —Margaret G. Zackowitz

Rumah Pertama yang Dibuat dengan Printer 3D

Pada pembangunan rumah ini, tiap kamar akan dicetak secara terpisah seperti blok-blok besar yang akan disusun menjadi satu layaknya Lego

teknologi,printer,konstruksi,rumah
Sekelompok arsitek, di tepian sebuah kanal di Amsterdam mulai membangun rumah yang dicetak dengan printer 3D. Jika mereka berhasil, ini akan menjadi rumah pertama di dunia yang dibangun dengan printer 3D.

Perusahaan pembuatnya, DUS Architects, mulai membangun pada awal 2014. Kini, pengunjung atau wisatawan yang melintas bisa membeli tiket seharga sekitar Rp39 ribu untuk melihat sekaligus membantu membiayai pembangunan.

DUS Architects menggunakan The KamerMaker, sebuah printer 3D yang dipasang di dalam kontainer bekas setinggi 6 meter. Ia berfungsi seperti layaknya 3D printer untuk PC desktop, mencetak dengan plastik panas secara berlapis-lapis. Sebelumnya, printer ini sudah digunakan untuk mencetak benda yang lebih kecil, termasuk bangku.

Pada pembangunan rumah ini, tiap kamar akan dicetak secara terpisah seperti blok-blok besar yang akan disusun menjadi satu layaknya Lego. Kamar yang baru selesai cetak akan ditumpuk di atas kamar yang sudah lebih dulu diselesaikan.

Bangunan ini nantinya akan tampak seperti rumah tradisional Belanda dan rencananya akan tuntas dalam 3 tahun. Ia akan dibuka untuk umum sebagai museum desain.

Menurut Stephen Ervin, peneliti dari Harvard Fabrication Laboratory, DUS berpotensi menghadapi masalah pada pembangunan rumah tersebut. "Hal-hal yang berfungsi dengan baik pada komputer desktop ataupun di lab belum tentu berfungsi baik pula saat mereka dibuat dalam ukuran lebih besar," ucapnya.

Baca Tulisan Lewat Gadget Bantu Penderita Disleksia


Anak-anak dengan disleksia biasanya berbicara dengan normal, tapi punya kesulitan dalam menginterpretasikan "spoken language" dan tulisan.

\


Penelitian mengungkapkan membaca tulisan lewat gadget atau internet membantu penderita disleksia untuk meningkatkan kecepatan dan daya tangkapnya saat membaca.

Para peneliti di Amerika Serikat menghasilkan temuan ini dengan mempelajari 100 siswa yang membaca lewat media kertas dan mereka yang membaca lewat perangkat elektronik.

Disleksia biasanya terjadi pada anak-anak dengan daya penglihatan dan kecerdasan yang normal. Anak-anak dengan disleksia biasanya dapat berbicara dengan normal, tetapi memiliki kesulitan dalam menginterpretasikan "spoken language" dan tulisan.

Menurut riset ini, dengan membaca menggunakan gadget dan internet, penderita disleksia yang kesulitan melihat kata, tak mampu membaca cepat, dan mereka yang mengalami keterbatasan secara visual, dapat meningkatkan daya tangkapnya.

Karakter tulisan di perangkat elektronik yang cenderung berbaris pendek, dengan lebih sedikit kata membantu siswa untuk fokus pada setiap kata.

Ketua peneliti, Dr Matthew Schneps, dari Science Education Center di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, mengatakan faktor kunci yang membantu penderita disleksia saat membaca lewat perangkat elektronik adalah sedikitnya jumlah kata per barisnya.

"Menurut kami hal ini juga bisa diterapkan pada media kertas atau papan tulis atau perangkat membaca lainnya," imbuhnya.

Menurutnya, disleksia bisa beragam jenisnya. Namun, sebagian orang akan terbantu dengan adanya penyesuaian terhadap teks tulisan yang lebih visual.

"Kalau seseorang mengalami kesulitan membaca, mereka mungkin akan mencoba untuk membesarkan teks di perangkat kecil yang mereka punya seperti komputer. Dengan begitu mereka akan tahu apakah dengan melihat lebih sedikit kata bisa membantu mereka membaca," tutur Schneps.

Asosiasi Disleksia Inggris berkomentar soal hasil studi ini. Menurut mereka, format e-book atau sejenisnya akan memudahkan karena hurufnya lebih bervariasi jenis dan ukurannya, juga spasi dan pilihan warna.

"Selain itu, mereka juga bisa mencari definisi dari kata yang ditemuinya saat membaca, lewat fitur kamus," ungkap perwakilan asosiasi.

Penggunaan perangkat elektronik juga memudahkan penderita disleksia dalam membaca, dengan tambahan software yang bisa mengubah teks menjadi suara.

"Dengan bantuan ini, membaca tidak lagi terlalu menyulitkan bagi penderita disleksia, sekaligus juga bisa mengurangi stigma yang sering kali mengasosiasikan disleksia dengan orang yang tidak bisa membaca," tandasnya.

Kota Kuno Petra Dibangun Sejajar Matahari


Budaya Nabatea mendirikan kota untuk menangkap titik balik Matahari dan khatulistiwa.




Sebuah bangunan peradaban kuno berupa kota yang dipahat di batu, Petra yang terkenal itu, dibuat sedemikian sehingga Matahari akan menerangi tempat-tempat

Petra, kota metropolis raksasa berisi makam, monumen, dan tatanan keagamaan rumit lainnya diukir di tebing batu, merupakan ibukota kerajaan Nabatea. Budaya Timur Tengah yang masih sedikit dipahami ini menguasai sebagian besar daerah Yordania modern dari abad ke-3 SM sampai abad I Masehi

Para pedagang rempah-rempah makmur menyembah Matahari, di antara dewa lainnya, dan mungkin telah menekankan pentingnya khatulistiwa (titik Matahari yang membagi siang dan malam sama panjang), titik balik Matahari, dan peristiwa astronomi lainnya yang ditentukan oleh bagaimana Matahari bergerak melintasi langit.

Titik balik Matahari, misalnya, adalah hasil dari poros utara-selatan Bumi yang relatif miring 23,5 derajat terhadap bidang tata surya kita. Kemiringan inilah penyebab perbedaan jumlah sinar Matahari yang mencapai berbagai wilayah planet Bumi selama setahun mengelilingi Matahari .

Sekarang, analisis statistik yang diterbitkan dalam Nexus Network Journal mengungkapkan, bahwa fenomena surgawi cenderung mempengaruhi bagaimana Nabatea menciptakan tatanan di Petra, kata dalam bahasa Yunani yang berarti batu karang.

"Bagian depan Petra tidak hanya cantik, tetapi juga menunjukkan sesuatu yang lain," kata ketua tim peneliti Juan Antonio Belmonte, astronom purbakala dari Institute of Astrophysics of the Canary Islands (IAC).

Penyebab Disleksia Ditemukan?


Teknik stimulasi non-invasif pada otak mungkin bisa membantu memperbaiki koneksi antararea yang bermasalah.




Para peneliti kemungkinan telah menemukan gangguan saraf yang menyebabkan disleksia(kesulitan membaca dan menulis). Diduga, area yang berlainan pada otak, yang mengatur tentang bahasa, tidak dapat berkomunikasi dengan semestinya. Temuan ini bisa menjadi pijakan untuk membantu para penyandang disleksia.

Satu teori menyatakan bahwa penyandang disleksia memiliki sedikit gangguan pendengaran, akibat kurang berkembangnya representasi saraf fonem pada otak. Namun, teori ini bisa dipatahkan karena "penyandang disleksia tidak punya masalah dalam memahami ucapan lawan bicaranya," menurut Sophie Scott dari University College London.

Scott dan rekan-rekannya memindai otak 23 orang dewasa penyandang disleksia, dan 22 orang non-disleksia. Pada semua partisipan, pola aktivitas saraf di bagian auditory cortex(yang mengolah suara masuk) sama-sama baik dalam merespons suara bicara. Artinya, otak mengolah suara dengan baik, pada penyandang disleksia maupun non-disleksia.

Tim peneliti kemudian menguji jaringan bahasa pada otak, yang mungkin mengalami kesulitan mengakses representasi suara. Mereka mengeksplorasi 13 area pada otak yang berperan dalam pengolahan bahasa, dan mengecek dua hal: bagaimana aktivitas yang serupa melewati area-area ini, dan bagaimana bentuk atau struktur saraf yang menghubungkan area-area tersebut.

Pada penyandang disleksia, kedua pengujian tersebut mengungkap adanya koneksi yang terganggu, dan karenanya terganggu pula komunikasi antara area otak yang mengandungauditory cortex dan area yang berperan mengolah informasi bahasa dan produksi suara/ucapan.

Semakin buruk konektivitas antara area-area ini, semakin parah tingkat disleksia seseorang. Menurut tim peneliti, teknik stimulasi otak non-invasif mungkin bisa membantu memperbaiki koneksi yang bermasalah tersebut.

Liechtenstein: Pangeran dan Negeri Liliput

"Kami minoritas dan kami bangga," kata Sandra Thurnheer, seorang penduduk asli "negeri liliput".

liechtenstein,alpen,swiss,rhineThe Rhine: Perbatasan antara Liechtenstein dan Swiss, yang berpanorama cantik Pegunungan Alpen 
Liechtenstein, adalah kerajaan mungil. Sebidang kecil padang rumput Alpen, pucuk-pucuk terjal, dan kebun anggur ini mendapati dirinya tersekat di antara Austria dan Swiss.
"Kami minoritas dan kami bangga," kata Sandra Thurnheer, seorang pengusaha internet dan juga penduduk asli "negeri liliput".
Seberapa mungil kerajaan ini? Kata Thurnheer, Anda bahkan bisa saja berjumpa dengan pangeran dan istrinya di toko bahan pangan!
Liechtenstein dengan sapuan lanskap mahaindah dari hijaunya tepian Sungai Rhine, hingga Pegunungan Alpen yang dicumbu awan.
"Seolah-olah negeri ini bersandar pada gunung-gemunung itu," imbuh Thurnheer, yang memuji nikmatnya jalan-jalan santai di bukit. Dinamai merunut ibunda pangeran yang berkuasa, Princess Gina Trail memungkinkan pejalan mereguk panorama tiga negara selayang pandang.
Selain tepian sungai dan miliarder, Liechtenstein menawarkan kilasan tradisi tertua di Eropa, seperti api unggun Lenten dan Wimmlete musim gugur (memetik anggur yang akan diolah jadi wine). Resapilah segelas anggur bersama sepiring penuh kaseknopfle, niscaya tempat ini akan terasa seperti apa pun selain kecil.

Menapaki Gua Lot


Menapaki Gua Lot



Biara Lot, Ghor al Safi, Yordania

Kami berjalan menuju tempat terendah di dunia: 1.378 kaki di bawah permukaan laut.

Sebuah museum berdiri di tempat ini. Di luar museum, dekat puncak tebing, terdapat sisa-sisa biara Kristen kuno.

Masuk ke dalam museum, di belakang panel besar yang terbuat dari kaca, dapat dijumpai 3-4 orang konservator mosaik. Mereka berasal dari Yunani, dan satu orang Australia.

Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh menghadapi sebuah meja di mana terserak pecahan-pecahan batu tak terhitung banyaknya. Puzzle besar. Puing-puing yang berantakan. Kekacauan yang penuh warna.

"Saya dapat mengamat-amati pecahan ini sampai 10 jam, tanpa menemukan satu pun hubungan," ungkap Stefania Chlouveraki, arkeolog senior yang termasuk salah seorang konservator mosaik di museum itu.

"Kemudian, pada satu pagi secara tak sadar saya menemukan tiga tautan antara pecahan-pecahan," lanjutnya.

Mereka sibuk untuk menyusun kembali mosaik lantai di situs yang diduga merupakan tempat Gua Lot berada itu.

Gua Lot adalah gua tempat pengasingan keluarga Lot setelah keluar dari kota kembar Sodom dan Gomora—yang dalam kisah Alkitab dibumihanguskan oleh Tuhan Allah karena kejahatan penduduknya.

Biara Saint Lot dibangun pada abad ke-5. Lantai yang sedang dikerjakan Chlouveraki dan rekan-rekannya, seluas sekitar 40 meter persegi dan terdiri atas 900 potong pecahantesserae

Siapakah Orang Tatar?


Mampukah orang Tatar menepis mimpi buruk lama tentang represi Rusia?




Bagi orang-orang Tatar dari Krimea, sejarah bukan hanya sesuatu yang ada di buku, melainkan terpendam di kehidupan sehari-hari — hal itu seperti pelajaran pahit yang membimbing sekaligus menyakitkan.

Di ingatan orang-orang tua Tatar masih membekas, deportasi yang terjadi pada 1944 oleh Pemerintah Soviet di era kepemimpinan Joseph Stalin.

Hampir setengah dari 200.000 populasi penduduk Tatar—pria, wanita, dan anak-anak tanpa terkecuali, yang diangkut ke pengasingan dengan mobil ternak mati dalam perjalanan atau segera sesaat tiba di wilayah pegunungan Ural, Siberia, Asia Tengah. Juga mereka sempat bergulat dengan paksaan migrasi dan genosida.

Pembuangan dari tanah kelahiran adalah hukuman bagi bangsa mereka, yang diduga melakukan "kolaborasi besar" dengan Nazi yang tatkala itu telah menduduki semenanjung.

Mereka, beserta anak-cucu, pada akhirnya telah dapat kembali dari pengasingan sejak 20 tahun terakhir. Dan kini, mereka —meski mengaku ingin hidup damai— jelas enggan untuk berada lagi di bawah kendali Moskow.

Di Krimea ada kurang lebih 300 ribu Muslim Tatar atau sekitar 12-15 persen dari total populasi.


Kekuasaan Tatar

Padahal dahulu, orang Tatar-lah penguasa di area tersebut. Tatar Krimea berperan dalam membuat semenanjung ini sebagai salah satu pusat Islam. Sejarah mereka dengan Rusia —dari hubungan dagang dan kerja sama, perkawinan dan persilangan budaya, dan kadangkala ketidakpercayaan— mengalami tarik-ulur selama berabad-abad.

Kelompok etnis kuno ini pertama muncul di peta pada sekitar 1241, kata Eric Lohr, pakar sejarah budaya Rusia dari American University, Washington-AS. Saat itu Batu Khan, keturunan dari Jenghis Khan, menaklukkan wilayah tersebut dan menjadikannya bagian strategis dari Kekaisaran Mongol serta pusat kejayaan Moskow.

Pada abad ke-15, kelompok dominan yang mendiami wilayah—ialah Khanat Krimea yang merupakan rakyat yang tersisa dari Kekaisaran Mongol dan merupakan sebagai bangsa penutur bahasa Turki terpanjang dalam sejarah dunia— jatuh ke genggaman Kekaisaran Ottoman di akhir abad.

Mereka pun dikenal sebagai pedagang budak. Ottoman menginginkan budak, dan bangsa Tatar menyediakannya, dari stepa-stepa di penjuru Ukraina dan Rusia bagian selatan.

Menginap di Hotel "James Bond"

Tamu yang menginap di kamar ini bisa menonton semua film James Bond di layar lebar yang terpampang di depan tempat tidur

travel,destinasi wisata,prancisKamar bertema James Bond di hotel Seven Hotel ini memiliki tempat tidur yang disinari lampu ungu. Hotel ini berada di Paris, Perancis. | Seven Hotel
Anda penggemar James Bond, mata-mata terkenal dari Inggris karangan penulis Ian Fleming? Maka, kamar hotel satu ini harus Anda inapi. Seven Hotel di Paris, Perancis memiliki kamar tipe suite bertemakan James Bond yang mewah.

Tamu yang menginap di kamar ini bisa menonton semua film James Bond di layar lebar yang terpampang di depan tempat tidur. Tempat tidurnya sendiri terkesan mewah karena disinari oleh lampu ungu.

Tak heran, kamar ini begitu terkenal di kalangan penggemar James Bond di seluruh dunia. Namun, tak sedikit pula turis yang menginap di kamar ini karena keunikannya.

Dinding kamar dihiasi gambar perempuan membawa pistol yang kerap muncul di awal film James Bond. Juga gambar James Bond yang hadir di salah satu dinding.

Sementara langit-langit kamar ditutupi oleh cermin. Seakan-akan memberi kesan tamu bisa tetap waspada jika musuh mengintai di dalam kamar.

Kamar juga dilengkapi dengan toilet berwarna emas, televisi layar lebar 62 inch, pojok lounge untuk bersantai, dan kamar mandi bergaya Turki. Ada pula aneka pajangan seperti lampu berwarna emas dan berbentuk pistol.

Tertarik untuk menginap di kamar bertemakan James Bond ini? Tarif kamar per malam sekitar Rp 7 juta (370 poundsterling). Kamar lainnya di hotel ini penuh tema pula. Seperti kamar bertemakan "Alice in Wonderland" dan "Marie Antoinette"

Great Wall Akan Miliki Zona Khusus untuk Grafiti


Di zona ini, pelancong bebas meninggalkan tanda. Hal ini dilakukan demi menjaga area monumen lainnya.




Tembok Besar Cina akan memiliki zona khusus untuk grafiti. Apa tujuannya? Rupanya, zona ini dibuat dalam usaha untuk menghentikan perilaku turis yang kerap menggoreskan nama mereka di monumen kuno tersebut.

Zona tersebut akan berada di Mutianyu, area yang terkenal di Tembok Besar Cina yang berada di distrik Huairou. Di zona ini, pelancong bebas meninggalkan tanda. Hal ini dilakukan demi menjaga area monumen lainnya.

Seperti dikutip dari Dailymail, usaha yang dilakukan pemerintah Cina tersebut datang karena ketakutan bahwa masalah yang tengah mereka hadapi yaitu aksi penggoresan oleh turis, dapat merusak Tembok Besar Cina.

Mutianyu merupakan salah satu bagian dari tembok yang masih terjaga baik. Namun, karena kepopulerannya hingga turis tega menggoreskan tulisan di tembok tersebut. Menurut sebuah laporan, sebagian besar tulisan merupakan bahasa asing. Kebanyakan adalah Bahasa Inggris.

Salah satu menara tempur telah dialokasikan sebagai zona grafiti. Dua zona area lainnya rencananya akan diungkapkan dalam waktu dekat. Ada pertimbangan lainnya untuk menempatkan papan grafiti elektronik.

Holi, Ceria dalam Tumpah Ruah Warna

Setiap tahun, penganut Hindu di India merayakan Holi. Festival ini diadakan pada akhir musim dingin dan menandai permulaan musim semi.

holi,holi fest,festival warna,perayaan,india,hari besar,tradisi,hinduTumpah ruah dan berlumur bubuk warna
Inilah Holi, sebuah festival warna yang diadakan untuk menyambut datangnya musim semi. Di India, fetival ini telah mengundang ribuan wisatawan datang untuk menyaksikan kemeriahannya. 
Bagi penganut Hindu di India, Nepal dan beberapa negara yang menganut Hindu, Holi merupakan salah satu perayaan tertua. Tradisi ini mengakar dari kisah Radhda dan Dewa Krishna. Saat masih muda, Krishna cemburu dengan kulit Radha yang tidak gelap seperti kulitnya. 
Ia mempertanyakan hal ini kepada ibunya, Yashoda, dan memohon untuk mewarnai kulit Radhda. Pewarnaan terhadap kulit yang dilakukan Krishna terhadap saudara yang dikasihinya inilah yang diyakini sebagai akar perayaan Holi.
Saat ini Holi dirayakan dengan sangat meriah, bubuk-bubuk warna dan percikan air ditaburkan kepada para pengunjung. Berikut foto-foto perayaan Holi di India. 
holi,holi fest,festival warna,perayaan,india,hari besar,tradisi,hinduSekelompok wanita memukul seorang pria dengan tongkat saat Lathmar Holi Festival di India. 
holi,holi fest,festival warna,perayaan,india,hari besar,tradisi,hinduBertabur bubuk warna. 
holi,holi fest,festival warna,perayaan,india,hari besar,tradisi,hinduTak hanya dihujani bubuk warna, masyarakat Hindu yang merayakan Holi di Kuil Banke Bihari juga disiram air.
holi,holi fest,festival warna,perayaan,india,hari besar,tradisi,hinduCeria meskipun tubuh penuh bubuk warna saat perayaan Holi di Kuil Banke Bihari, Vrindavan, India. (Thinkstockphotos
holi,holi fest,festival warna,perayaan,india,hari besar,tradisi,hinduAnak-anak saling melempar bubuk warna saat perayaan Holi di India. 
holi,holi fest,festival warna,perayaan,india,hari besar,tradisi,hinduTubuh penuh bubuk warna saat perayaan Holi di Kuil Banke Bihari, Vrindavan, India. 
holi,holi fest,festival warna,perayaan,india,hari besar,tradisi,hinduKeceriaan saat perayaan Holi. 

Jejak Hutan di Tanah Rakyat


Hutan tak sekadar kumpulan pohon, tetapi juga tempat berikhtiar hidup.


Angin berembus menggoyang pucuk-pucuk kembang pohon jati. Musim kering datang terlambat, udara me­ngambang lembap. Sebagian bunga jati, yang disebut opo dalam bahasa Jawa, luruh ke tanah. Pada sekeping tanah di sudut tikungan di Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta, Andreas Sihono menepuk-nepuk batang jati muda. “Ini tumbuh sendiri,” ujarnya bangga. Pohon itu tumbuh di atas tunggul jati yang dia tebang pada 2004. “Untuk membiayai sekolah anak, saya menebang enam pohon, dapat Rp25 juta,” tutur lelaki 62 tahun ini.

Air muka Sihono mengguratkan rasa ten­teram: masa kini dan masa depannya ada di tanah itu. Saya sempat iri hati. Betapa tidak? Kerumunan jati itu baru salah satu hutan yang dia miliki. Hanya beberapa meter dari situ,di belakang rumah Sihono yang bergaya limasan, menjulang bukit kapur kecil berbatu-batu dengan sejumlah ceruk mirip gua. Bukit diselimuti jati, mahoni, akasia, dan beberapa rumpun bambu. Rimbun dan teduh memayungi rumahnya yang berdiri di sisi tanah yang datar. Ia pernah memeluk jati paling besar. Kedua tangannya tak temu-gelang ketika merangkul pohon berdiameter sekitar 70 sentimeter itu.

Tumbuhan berkayu yang muncul di tanah milik perseorangan inilah yang kerap disebut hutan rakyat atau hutan hak. Cara me­nanam­nya macam-macam. Areal berbatu-batu ditanami penuh pepohonan, sehingga serasah menyamarkan bongkahan batu. Atau, secara tumpang sari: Pohon ditanam di tepi batas lahan, sementara di tengah lahan yang bertanah tebal ditumbuhi tanaman semusim seperti singkong dan jagung.

Sebelum era 1970-an, Sihono mengenang, lahan-lahan hanya ditanami singkong sebagai sumber bahan pangan. Pohon berkayu di­pandang tidak bermanfaat. “Ya sayang kalau ditanami pohon, soalnya bahan makannya dari singkong untuk tiwul.”

Semenjak 2006, keping-keping hutan rakyat yang tumbuh di tanah-tanah milik itu menapaki  sebuah lembaran baru: tercakup dalam unit manajemen Paguyuban Kelompok Tani Sekar Pijer yang bergabung dalam Koperasi Wana Manunggal Lestari.

Sejak berdiri pada 2006, Wana Manunggal Lestari telah menggenggam sertifikat pe­ngelola­an hutan lestari dari Lembaga Ekolabel Indonesia. Pada 2012, koperasi itu meraih sertifikat verifikasi legalitas kayu. Itu berarti pe­ngelolaan hutan rakyat anggota Wana Manunggal dijamin lestari. Selain itu kayu-kayu yang dipanen dijamin berasal dari sumber-sumber yang legal.

Selama ini, pemilik hutan rakyat memanen kayu saat ada kebutuhan mendesak yang disebut ‘tebang butuh’. Misalnya saat sekolah me­mulai ajaran baru, atau saat hajatan akan dilangsungkan. Tebang butuh mencederai ke­lestarian karena pembalakan dilakukan tanpa menimbang kepantasan diameter pohon—yang umumnya belum ‘masak tebang’.

Ketua Koperasi Wana Manunggal Lestari, Sugeng Suyanto menuturkan tak jarang pohon-pohon berdiameter kecil ditebangi untuk me­menuhi kebutuhan. “Masih kecil-kecil sudah ditebang, kadang baru sebesar lengan,” tuturnya kepada saya di rumahnya di Dengok, Playen.

Menyambut Musim Semi

Menyambut Musim Semi

Menyambut Musim Semi

Warga merayakan holi di Kuil Bankey Bihari, Vrindavan, India. Perayaan Holi atau festival warna dirayakan oleh umat Hindu. Festival ini diadakan pada akhir musim dingin dan menandai permulaan musim semi. Semua orang tumpah ruah dijalanan sembari menyiramkan bubuk warna dan air.

Seperti Apa Topeng Tertua di Dunia?


Peneliti berpendapat, topeng ini mungkin saja dikenakan saat ritual kuno.



Diklaim sebagai topeng tertua di dunia ("the oldest masks in the world"), topeng berusia 9.000 tahun yang ditemukan di situs Horvat Duma di Bukit Yudea, Israel, kini menjadi koleksi museum.

Kata peneliti, topeng batu tersebut mengungkapkan "kemiripan yang mengerikan" dengan wajah manusia.

Sebelum disimpan di dalam display kaca Museum Israel di Yerusalem, sejumlah kurator telah melakukan studi komparatif terhadap topeng ini.

Dengan senyum kaku, dan lubang besar pada bagian mata, artefak ini merepresentasikan roh-roh nenek moyang yang telah mati. Topeng ini mungkin banyak dipakai selama upacara dan ritual Zaman Batu.

"Lubang mata memungkinkan untuk melihat dengan luas berbagai bidang visi, serta proporsi yang amat pas untuk kontur wajah manusia," tutur seorang kurator, Debby Hershman.

Juga ada lubang di tepi pada beberapa topeng kuno. Menurut peneliti, kemungkinan gunanya untuk dilampirkan atau dipasang pada wajah.

Di samping itu, lubang pahatan ini juga dapat untuk dimasukkan ke rambut untuk membuat topeng terlihat lebih manusiawi, atau dimanfaatkan bagi tali yang bisa mengikat topeng ke pilar, maupun struktur lainnya.

Page Fans

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management