CHRONIC = ART

Search This Blog

Wednesday, 16 April 2014

3 Ritual Pagi yang Merusak Energi Sepanjang Hari

Ini adalah hal yang harus dihindari sebagai kebiasaan alias ritual pada pagi hari.

kopi,minuman(Thinkstockphoto)
Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita, kemacetan parah di jalan, gangguan perjalanan kereta, atau si kecil rewel saat akan ditinggal bekerja. Semua itu bisa berpengaruh pada suasana hati Anda seharian.
Namun, ternyata ada kebiasaan kita dalam memulai hari yang tanpa disadari berpengaruh buruk pada kondisi emosi.
Ngopi terlalu pagi
Ternyata waktu minum kopi punya pengaruh tersendiri pada tubuh. Level energi kita meningkat secara alami saat kita bangun. Karena itu jika bangun tidur kita langsung minum kopi, akan terjadi lonjakan energi yang membuat kita lebih gelisah. Minumlah kopi satu jam setelah bangun tidur, waktu di mana level energi kita mulai turun. Dengan demikian kopi akan membuat Anda lebih fokus dan berenergi hingga siang.
Sarapan terlalu sedikit
Karena sedang diet, Anda memilih tidak sarapan atau hanya mengonsumsi sepotong buah. Menu sarapan itu bukan hanya membuat perut Anda gampang lapar, tetapi juga kekurangan nutrisi yang diperlukan untuk membuat perut tetap kenyang hingga waktu makan siang.
Menu sarapan sebaiknya tetap terdiri dari protein, serat, lemak sehat, dan karbohidrat kompleks. Sarapan tersebut akan membuat Anda tetap fokus dan tidak berkeinginan untuk mengemil sebelum jam makan berikutnya.
Langsung cek e-mail
Ini adalah kebiasaan buruk yang harus Anda hindari. Bangun tidur langsung memeriksa gadget Anda untuk melihat e-mail hanya akan membuat stres sepanjang hari. Daripada mencemaskan pekerjaan, mulailah pagi Anda dengan sesuatu yang menenangkan, seperti melakukan peregangan, minum teh, atau mengobrol dengan pasangan dan anak. Anda akan lebih bersemangat dan produktif.

Neanderthal adalah Orangtua yang Baik

neanderthalInilah interpretasi seniman dalam menggambarkan sebuah keluarga Neanderthal. (Foto: Randii Oliver, Wikimedia Commons)
Para ahli selama ini percaya Neanderthal memiliki masa kecil yang keras, dan berbahaya. Pasti benarkah?
Studi terbaru dengan sudut pandang berbeda ditunjukkan tim arkeolog dari PALAEO (Centre for Human Palaeoecology and Evolutionary Origins) dan Department of Archaeology, University of York.
Pada studi yang dipublikasikan dalam Oxford Journal of Archaeology mereka mengungkap, anak-anak Neanderthal punya ikatan atau kelekatan emosional yang kuat antarsesama — dan bahwa hal ini berperan signifikan untuk membangun pergaulan dalam kelompok sosialnya.
Bahkan, masa kanak-kanak Neanderthal mungkin hanya berbeda tipis saja dari manusia modern dalam hal hubungan sosial. Fokus Neanderthal pada pengembangan kemampuan bersosialisasi mungkin tidak sebesar manusia modern, tapi mereka memiliki "modal" yang sama.
Ini merupakan antitesis dari studi lama yang cenderung menarik kesimpulan berdasarkan prasangka akan keterbelakangan Neanderthal yang lantas dikaitkan dengan ketidakmampuan melindungi anak, ujar pimpinan studi Dr. Penny Spikins, seorang arkeolog yang banyak meneliti budaya dan perilaku sosial Neanderthal.
Padahal sebaliknya, dinyatakan Neanderthal selalu merawat anak yang sakit dan terluka bisa sampai berbulan-bulan, atau acapkali tahunan. Penguburan bagi anak yang meninggal pun dilaksanakan secara khusus, ritualnya kemungkinan lebih rumit daripada orang dewasa.
Berdasar hasil studi ini, orangtua Neanderthal sangat konsekuen memperhatikan anak-anaknya.
Kelompok-kelompok Neanderthal hidup relatif terisolisasi, implikasinya justru hubungan internal (antarinvidu dalam kelompok) semakin erat. "Tinggal di daerah yang sulit, mereka perlu menghadapi tekanan dari luar dan salah satu kecenderungan dengan menjalin ikatan emosional ke orang-orang terdekat," jelas Spikins.

Page Fans

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management